HOME
Home » Artikel » Kembalilah Merantau Kawan

Kembalilah Merantau Kawan

Posted at April 11th, 2008 | Categorised in Artikel
Entah sudah berapa banyak orang yang telah ikut membantu aku untuk mencarimu, tapi tak jua aku bisa menghubungimu meskipun hanya untuk sekedar menanyakan Gimana kabarmu sekarang. Mr. xl yang selalu bikin aku betah ngomong juga tak menunjukkan keberadaanmu, keluarga bakri yang biasanya menyambungkan suaraku lewat ponsel esia batangan ini juga tak tau kamu dimana, jawaban mbak veronica juga selalu sama ‘masnya lagi tidak bisa dihubungi’. Surat yang aku titipkan mas yahoo pun tak kamu balas, aku curiga surat itu tak sampai ditanganmu. Maka sewaktu pak pos lewat aku titiplah surat ini untukmu. Aku yakin saat ini surat yang aku tulis dengan penuh rasa cinta sebagai sahabatmu sudah kamu baca. Karena aku tahu selama ini pak pos tak pernah salah untuk mengalamatkan surat titipan.
Tadinya aku pikir kamu sudah sedemikian sibuknya sehingga untuk menghubungimu harus melalui asisten pribadi. Sayangnya aku belum sempat Tanya siapa asistenmu,sudah keburu kamu tak bisa dihubungi. Tapi setelah sekian lama tak ada kabar beritamu aku mendengar kabar burung tentang persahabatanmu dengan belalang sawah dan kambing ternak. Untuk berita ini sebenarnya aku tak begitu percaya karena berita ini hanya sekedar berita burung yang sudah aku tahu reputasi kebohongannya. Namun begitu ngeyelnya burung pembawa berita mengabarkan berita tentang kepulanganmu sejak 2 bulan yang lalu. Akupun sedikit banyak mulai percaya, kuharap dimanapun kamu berada selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT. Toh dimanapun berada masih berada di Bumi Allah, dan disetiap jengkal bumi Allah selalu menyimpan nikmat dan Rizki yang tiada terhitung nilainya.
Aku tak begitu tahu apa permasalahanmu sehingga harus pulang kampung. Yang pasti bukan karena alasan keluarga, karena yang aku tahu kedua orang tuamu sudah mengikhlaskan kamu untuk merantau sampai kapanpun. Kawan, tidakkah kau bisa melihat orang-orang yang dengan susah payahnya mengais rizki di tanah kelahirannya sendiri. Namun apa yang mereka dapat, setiap jengkal tanah yang mereka kais tak membuahkan hasil seperti harapannya yang tinggi. Sementara para pendatang yang belakangan baru ikut-ikutan mengais rizki di kampung orang, justru mampu menemukan segenggam berlian yang terpendam di dasar kegigihan jiwa.
Itulah uniknya orang mencari rizki, orang sunda sukses di Jawa, orang Jawa sukses di Riau, orang Riau sukses di Medan, orang Medan sukses di Surabaya, Orang surabaya sukses di Makasar, orang Makasar sukses di Pontianak, dan seterusnya dan seterusnya. Itulah fenomena kesuksesan di sekitar kita kawan. Bukankah ketika kamu tinggal di Kebayoran Baru hampir seisi komplek semuanya adalah pendatang, atau ketika kamu tinggal di pusat kota jogja, ada berapakah penduduk asli di tempat dimana kamu tinggal?! Kalau aku mengamati, kecenderungan orang-orang tempatan tidak bisa menunjukkan prestasi yang membanggakan, sehingga yang sukses di tanah lahir mereka justru para perantau yang datang dengan membawa segudang mimpi. Aku tidak tahu ini fenomena sunnatullah, atau sebatas sebab akibat yang tidak musti berlaku disemua tempat. Namun dalam penelitianku yang menggunakan teori ketidaksengajaan dan studi ketidaklayakan menunjukkan hasil bahwa lebih dari 70% pengusaha sukses bukan didaerah dan tanah kelahirannya.
Kawan, kenapa kamu memutuskan untuk kembali pulang di kampung halaman nan jauh di pelosok pegunungan seribu?! Bukankan ketika kamu pulang idealnya sudah membawa sekarung harta karun yang bisa kamu gunakan untuk membantu mengentaskan masyarakat desa dari ketertinggalan zaman. Atau kamu pulang ketika sudah menggendong anak cucu, sehingga kepulanganmu ke kampung halaman akan menjadi penghabisan masa tua yang menyenangkan. Sementara keadaanmu sekarang masih muda, pendamping hidup juga belum punya, jadi untuk apa kamu pulang.
Kawan, kembalilah merantau dan berpetualang di keramaian kota. Aku rasa belum saatnya kamu pulang kampung kalo belum jadi milyader. Kalaupun kamu sudah nyaman bersahabat dengan belalang liar dan telah berjanji setia dengan burung sawah, aku rasa tak ada salahnya kembali berjuang dengan belalang tempur di kota besar yang lebih banyak tantangannya. Jika selama ini kamu tidak pernah mendapatkan suntikan motivasi dari para pakar bisnis, cobalah datang ke padepokanku. Sedikit banyak aku sudah menguasai jurus dewa mabuk dan raja gila. Sekarang kan teknologinya sudah semakin maju, orang bilang ’3G’, Gila, Gelo, Gendheng, kata mas ipho. Jadi ngapain harus banyak mikir, yang penting mah halal kata orang sunda.
Sekarang cobalah kobarkan lagi api semangat dalam jiwamu. Jika ia sudah mati, ambillah sumber api dari puncak cita-cita yang terletak di pegunugan mimpi. Niscaya api yang bersumber dari sana tak akan pernah padam meskipun angin tofan dan hujan badai menerpamu. Karena api itu akan menyala dalam jiwa para pemberani yang jauh dari keraguan dan ketakutan akan masa depan.
Kembalilah kawan, aku menunggumu…
AB Subranto
www.kakilangit.co.id
Tags :