HOME
Home » Artikel » Jejak Kaki Langit

Jejak Kaki Langit

Posted at April 23rd, 2008 | Categorised in Artikel

Starting Point

Perjalanan waktu selalu dibarengi dengan segenap perubahan alam dan seisinya. Dan manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna juga turut dalam proses perubahan tersebut. Perubahan yang lebih baik akan disebut sebagai manusia yang beruntung, dan proses menuju perubahan yang lebih baik itulah yang ingin dikejar oleh AB Subranto.

Ia lahir di pedalaman pegunungan seribu, wilayah kekuasaan Sri Sultan Hamengkubuwono X di ujung tenggara. Di lembah berbatu itulah ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang setiap harinya bekerja sebagai petani. Meskipun kedua orangtuanya hanyalah tamatan SD, namun pendidikan yang diberikannya jauh melebihi pendidikan yang pernah diterima AB Subranto hingga kini, merekalah guru terbaik sepanjang zaman yang pernah ia temui.

Jejak langkah menuju perubahan ia mulai semenjak lulus SMP, berbekal kemauan yang keras AB Subranto memberanikan diri untuk berlepas diri dari tanggung jawab kedua orang tuanya. Ia berguru pada seorang Kyai di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Gunungkidul. Bersama KH. Muh Husein ia belajar untuk menemukan jati dirinya, disaat yang bersamaan ia juga mulai beraktualisasi diri dalam organisasi Ikatan Remaja Muhammadiyah. Hingga setelah 3 tahun lamanya menimba ilmu di Pesantren yang berada di kawasan Masjid Agung wonosari itu, Guru terbaik sepanjang usianya memerintahkan untuk turun gunung.

Aktualisasi Diri

Sebagaimana pesan sang Guru, AB Subranto turun gunung untuk menuntut ilmu di Padepokan Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sang guru juga berpesan agar ia belajar dengan tekun di Kampus Putih tersebut, waktu yang diberikan sang Guru hanya 3,5 tahun. Di kampus AB Subranto belajar tentang Kependidikan Islam, sementara di sepanjang sungai Gajah Wong ketika ia hendak pulang selalu menumui fenomena yang berbeda dan tidak terumuskan dalam kurikulum pendidikan yang menyiapkannya untuk menjadi tenaga pengajar profesional. Fenomena perbedaan kasta yang menjadi tembok penghalang komunikasi antara kelas menengah atas dan masyarakat girli (pinggir kali). Dia mencoba untuk menelaah fenomena tersebut, dan ingin mencari tempat dimana ia bisa menemukan jawaban atas semua itu. Maka diluar kampus ia bergabung dalam sebuah komunitas sosial Forum Silaturahim Remaja Masjid Yogyakarta (FSRMY). Inilah titik tolak keberangkatannya menuju perubahan yang ia cari selama ini. Pembelajarannya tentang arti kehidupan dalam perspektif kemasyarakatan dan kesejahteraan memberinya tantangan untuk berkarya dan mampu memberi kontribusi yang terbaik untuk kehidupan.

Cikal bakal Kaki Langit offset dimulai ketika AB Subranto mendirikan percetakan Segoro Geni (laut api). Seolah ia ingin mengatakan, bahwa ia mempunyai semangat tak pernah henti laksana ombak laut yang selalu menghantam tebing karang, dan semangat yang selalu berkobar membakar jiwa seperti api yang menghanguskan kayu. Tak ada yang istimewa dari percetakan kecil itu, selain kebanggaan tersendiri bagi sang pemilik bahwa itulah karya terbaik buah tangannya.

Pengalaman kerjanya selama satu minggu disebuah percetakan dikawasan Pakualaman menjadi bekal satu-satunya saat itu. Namun ia tidak pernah berhenti untuk belajar, Kepada percetakan “Sang Surya” ia belajar ilmu desain, kepada “Pro-U media” ia belajar ilmu menghitung Hpp, dan kepada “Selvas Produktion” ia belajar tentang ilmu pemasaran.

Filosofi Kaki Langit

Dalam perkembangan berikutnya, percetakan Segoro Geni reinkarnasi menjadi “Kaki Langit”, Nama ini terinspirasi dari sebuah petualangan bersama Forum Peduli Lingkungan Lereng Merapi. Pendakian selama 17 jam menyusuri lereng dan puncak merapi dengan ketinggian 2968 mdpl itu akhirnya berhasil menancapkan Merah Putih di puncak Garuda. Berdiri tegak dipuncak yang berjarak beberapa meter dari lereng kaldera –lereng yang telah merenggut puluhan nyawa- hanya akan nampak hamparan awan dan gunung lawu di sudut timur. Langit yang menaungi bumi melebarkan kaki hingga keujung batas pandang mata, dan berpijak pada gundukan awan hitam yang pekat. Sebuah fenomena alam yang mengingatkan akan kehidupan yang abadi –kekal tanpa batas- yaitu kehidupan Akhirat, itulah yang terbaca dari filosofi “KAKI LANGIT”. Makna tersirat yang kemudian diterjemahkan dalam praktek bisnis adalah membangun etika bisnis yang santun dan menjadikan nilai-nilai ibadah sebagai landasan geraknya.

Dari waktu ke waktu percetakan Kaki Langit mendapatkan sambutan hangat dari berbagai pihak, hingga pada akhir tahun 2003 mendapat kepercayaan dari SDIT Al-Madinah Tanjung Pinang untuk mengerjakan Kalender dan beberapa kebutuhan sekolah lainnya. Menyusul kemudian dari Pekanbaru yang mempercayakan beberapan produk cetak untuk dikerjakan Kaki Langit.

Menemukan Tautan Hati

Rasa penasaran kemudian timbul, kenapa jauh-jauh mereka memesan cetak ke kota Jogja, sementara ongkos kirimnya aja lumayan mahal. Untuk mengobati rasa penasaran itu AB Subranto dibulan agustus 2005 berangkat ke Pekanbaru, dan di bulan juli 2006 berangkat ke Tanjungpinang. Sebelum ia sampai ke Tanjungpinang ia mampir dulu di Batam untuk menjumpai kawan lama waktu di FSRMY. Sehari di Batam kemudian langsung ke Tanjungpinang. Sepulang dari Tanjungpinang tempat Ust. Hajarullah Aswad –ustad, motivator dan sekaligus orang tua keduanya di tempat rantau- AB Subranto menunda kepulangan ke jogja karena ia masih penasaran dengan kota Batam yang sepertinya lebih prospektif untuk usaha percetakan dari pada kota Tanjungpinang. Dalam beberapa saat waktu itulah -1 bulan- ada skenario Allah yang lain dengan perantara sang kawan yang juga seorang ustadz, ia dikenalkan kepada seorang wanita sholihah yang menurut sang ustad layak untuk di pilih sebagai istri. AB Subranto Kembali tersadar akan janji Allah tentang jodoh, bahwa ia adalah ketetapan Allah yang telah digariskan semenjak ruh ditiupkan dalam rahim. Setelah istikharah ia menyerahkan semua hanya kepada Allah. Kuasa Allah menautkan kedua hati, dengan wanita yang baru ia kenal dan baru 3 kali bertemu itu AB Subranto kemudian memutuskan untuk melamar kepada kedua orang tuanya di Bandung.

Pembelajaran Bisnis

Sejak ia memutuskan untuk membangun pondasi dari unsur peradaban terkecil manusia –yaitu keluarga- AB Subranto menetap di Batam dan untuk sementara waktu menunda keinginannya untuk membuka cabang di Pekanbaru dan Tanjungpinang. Pangsa pasar percetakan di Batam ternyata sangat menjanjikan, market share masih menyisakan ruang yang cukup luas sehingga target yang ditetapkan bisa terlapaui dengan kerja keras. Guna meningkatkan kemampuannya dalam bersaing, ia masuk Entrepreneur University (EU), mengikuti E-Camp yang dibimbing Jaya Setiabudi, menyempatkan untuk datang pada seminar dahsyatnya Tung Desem Waringin, dan juga mendalami Filosofi Umat Terbaik Hidup Berkah (UTHB) bersama Samsul Arifin.

Waktu yang ia luangkan untuk mempelajari semua itu tidaklah sia-sia, hingga belum genap 2 tahun percetakan Kaki Langit Batam mampu mendatangkan mesin Digital printing dari cina. AB Subranto merasa bahwa semua capaian itu merupakan sebuah proses pembelajaran. Belajar bagaimana membangun usaha percetakan dan membesarkannya, belajar membangun kerjasama dan menjaga keutuhannya, serta belajar memberi kontribusi yang terbaik untuk sesama.

Bisnis sesungguhnya yang ingin ia capai bukanlah sumber penghasilan yang dinikmati sendiri, namun bagaimana mampu membangun usaha percetakan yang bisa dinikmati dan dijaga secara bersama-sama dalam bingkai kerja sama yang mengedepankan azas kekeluargaan. Sebab kesuksesan sejati menuntut kesediaan untuk berbagi. Sebuah pembelajaran yang ia dapat tentang prinsip usaha dari seorang pengusaha, bahwa lebih baik punya 100 perusahaan dengan saham 1% dari pada 1 usaha dengan saham 100%.

Tags :