HOME
Home » Artikel » Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

Posted at January 8th, 2011 | Categorised in Artikel
Bekerja menjadi sebuah kebutuhan bagi siapapun orangnya. Disamping aktivitas kerja menjadi sumber penghasilan untuk mencari rizki, dengan bekerja itu pula potensi diri bisa teraktualisasikan. Siapa sih yang gak butuh kerjaan, coba ja baca koran hari ini, sabtu minggu selalu ddi penuhi iklan lowongan kerja. Banyak dari para pencari kerja juga tak pernah lelah mengirim lamaran ke berbagai perusahaan yang mengiklankan kerja. Tak cukup satu atau dua perusahaan yang di lamar, seseorang yang sempat nganggur dalam hitungan bulan bisa mengirim lamaran kerja hingga ke puluhan bahkan ratusan perusahaan.
Begitulah upaya orang mencari kerja, apapun akan di lakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Lowongan PNS akhir tahun kemarin paling banyak di buru para pencari kerja, sampai cara-cara tak halal pun di lakukan demi sebuah titel pegawai negeri yang terjamin masa depannya. Baru mencari kerja aja butuh kerja keras, apalagi ketika sudah bekerja?! Ah tidak juga. Justru ketika sudah bekerja mereka jadi malas. Datang saja ke kantor kelurahan atau kecamatan kalau tak percaya, selalu saja ada keluhan pelayanan publik yang mengecawakan. Mentang-mentang gaji sudah tetap masuk seenaknya, begitu sampai kantor sibuk baca koran masyarakat yang datang pun akhirnya menjadi korban di cuekin.
Apapun pekerjaan anda, motivasi bekerja selalu menjadi kata kunci yang paling menentukan kualitas kerja anda. Dorongan motivasi yang menumbuhkan semangat kerja inilah yang kemudian di sebut kerja keras. Indikasinya adalah produktifitas potensi diri dan waktu yang di ukur dengan capaian target kerja. Seorang pedagang keliling akan di sebut sebagai pekerja keras ketika mampu mengelilingi minimal 5 kampung dari 6 kampung yang ditargetkan. Seorang disigner grafis bisa di katakan bekerja keras ketika ia mampu menyelesaikan 3 desain cover buku yang di tugaskan untuknya, meskipun untuk menyelesaikannya harus rela tidur hingga larut malam. Demikian pula seorang polisi, ia bisa di sebut kerja keras ketika mampu menilang sedikitnya 90 pengendara motor dari 100 surat tilang yang di bawanya.. he..he.. enak ya.
Jika ukuran kerja keras adalah produktifitas maka tolok ukur kerja cerdas adalah efektifitas waktu dan dan potensi. Di awal pembelajaran saya di bidang desain grafis, saya membutuhkan waktu lebih dari 3 hari untuk menyelesaikan 1 desain kalender. Begitu ada peningkatan ‘kecerdasan’, waktu yang di butuhkan untuk menyelasaikan pekerjaan yang sama hanya beberapa jam saja. Seorang pengusaha pemula membutuhkan waktu satu tahun untuk mencapai omset 1 milyar, namun capain itu bisa di peroleh hanya dalam waktu 1 bulan seiring dengan perkembangan usahanya. Kerja cerdas membutuhkan pembelajaran yang tak pernah ada kata selesai. Kerja cerdas aalah bagai mana kita mampu memperoleh hasil yang maksimal dengan kemampuan yang terbatas. Untuk capaian itu di butuhkan daya ungkit, seperti halnya ketika kita hendak mengganti ban mobil maka dibutuhkan sebuah dongkrak karena tenaga kita tak akan mampu mengangkat. Itu adalah anologi dari fungsi sebuah kerja cerdas cerdas, bahwa daya ungkit yang kita gunakan adalah untuk mengatasi keterbatasan potensi produktifitas kita. Ketika kita buka 1 toko selama 12 jam dengan omset 1 juta per hari, maka untuk bisa mendapatkan omset 10 juta perhari kita butuh 10 toko. Itulah kerja cerdas, karena waktu yang tersedia tidak mungkin di tambah, maka memper banyak toko atau memper besarnya menjadi solusi pencapaian target.
Yang terakhir adalah kerja ikhlas. Jika kerja keras dan kerja cerdas merupakan bagian dari aktifitas material, maka kerja ikhlas adalah aktifitas ritual. Jika kerja keras tolok ukurnya produktifitas, kerja ikhlas tolok ukurnya spiritualitas. Jika kerja cerdas mencari cara agar pekerjaan lebih efektif, kerja ikhlas mencari cara agar bekerja lebih dinamis. Jika kerja keras dan kerja cerdas tolok ukurnya adalah omset, kerja ikhlas tolok ukurnya adalah hakekat syukur. Bekerja adalah bagian dari aktifitas ibadah, itulah yang harus di ilhami dari pemahaman tentang kerja ikhlas. Tidaklah Allah menilai seseorang dari apa yang dihasilkannya, tapi dari apa yang diusahakannya. Maka tuntutan dari kerja ikhlas adalah rasa syukur dengan memanfaatkan hasil pekerjaan untuk kemaslahatan umum. Ada hak untuk fakir miskin dari rizki yang kita peroleh tanpa melihat seberapa besar perolehan dari hasil kerja kita. Ada keharusan untuk kita selalu ingat pada sang pemberi rizki, saat kita tersibukkan dengan aktifitas kerja.

 

So, selamat bekerja dan beraktifitas. Semoga barokah Allah selalu bisa kita raih sehingga hidup lebih tenteram.
Tags :