HOME
Home » Artikel » Golongan MuhammadiNU

Golongan MuhammadiNU

Posted at February 5th, 2011 | Categorised in Artikel

Jika kita bicara Islam di bumi nusantara ini tentu akan selalu di kaitkan antara golongan Muhammadiyah atau NU. Seolah-olah hanya ada dua ormas itu dinegeri ini, sehingga pertanyaan yang sering kali muncul “kumu orang Muhammadiyah atau NU?”  Muhammadiyah yang menyebut sebagai organisasi terbesar di Indonesia patut bangga karena kader-kader terbaiknya mampu mengisi semua lini kehidupan bermasyarakat. Bahkan jauh sebelum itu Muhammadiyah juga turut andil besar dalam perjuangan mendeklarasikan kemerdekaan Negeri ini. Amal usaha Muhammadiyah hingga saat ini bisa di bilang paling besar dalam memberi kontribusi untuk kemajuan bangsa di banding dengan organisasi lainnya. Setidaknya itulah yang bisa di rasakan oleh masyarakat dengan berdirinya Sekolah Muhammadiyah di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Pada tahun 2009 jumlah sekolah sejak tingkat Dasar sampai Menengah Atas, berjumlah 7.307. Jumlah itu masih ditambah lagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebanyak 168. Jumlah Rumah Sakit/ Balai Pengobatan sebanyak 389 buah.Jumlah BPR/BT sebanyak 1.673. Jumlah Masjid sebanyak 6.118, sedang jumlah Musholla sebanyak 5.080 buah. Adakah capaian dari organisasi lain yang bisa menyamai rekor Muhammadiyah itu? NU juga tak kalah besar, seperti halnya Muhammadiyah organisasi NU juga berdiri di seluruh pelosok negeri ini. “bersaing” dengan muhammadiyah, NU juga memiliki cabang kepengurusan di belahan benua lainnya di Dunia ini. Pantaslah jika NU memplokamirkan diri sebagai organisasi terbesar di Dunia.  Pada tahun 2009 tercatat ada 14.067 Pondok pesantren NU yang tersebar di seluruh Indonesia. Inilah kelebihan NU yang begitu luar biasa dan tidak dimiliki oleh organisasi lainnya.

Saya bangga lahir di kalangan Muhammadiyah, setidaknya kunjungan Pengurus Cabang Muhammadiyah setiap bulan Ramadhan di masjid kami cukuplah untuk menyimpulkan bahwa kami adalah warga persyarikatan Muhammadiyah. Meskipun pada saat yang sama para pengurus masjid kami masih rutin menyelenggarakan Yasinan –NU- setiap kali ada momentum tertentu. Menginjak remaja jiwa Muhammadiyah benar-benar masuk dalam jiwaku, karena ketika di Sekolah Muhammadiyah aku belajar Kemuhammadiyahan. Saat itu aku merasa telah masuk pada golongan surga sementara yang lain adalah golongan bid’ah, sesat, dan ujungnya adalah neraka. Dalilnya jelas:
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Ajaran Muhammadiyah ingin memurnikan kembali Islam dengan menghapus Taklid, Bid’ah dan Churofat (TBC). Penyakit TBC itu telah menjangkit akut di seluruh lapisan masyarakat oleh karena itu butuh kerja keras untuk bisa menghapusnya. Jika seperti yang dikatakan Muhammadiyah bahwa Yasinan, Tahlilan, Selametan dan berbagai ritual lainnya adalah sesat, akan bertolak belakang tentunya dengan pemahaman NU.

Dalil orang-orang NU membaca surat Yasin ini adalah, pertama dalam hadits riwayat Nasa’i bersumber dari Ma’qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:
Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.” Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)

Oke. Saya gak perlu beradu dalil disini, karena antara keduanya mempunyai dalil yang diyakini masing-masing dari mereka paling kuat. Lagi pula aku tak ada kapasitas disini untuk membahasnya. Jalani apa yang anda yakini maka itulah yang terbaik untuk anda. Saya hanya ingin melihat diri sisi sosial kemasyarakatannya. Bahwa dikalangan warga Muhammadiyah dan NU masih banyak yang begitu fanatik dan memandang remeh golongan yang lainnya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami ketika melihat orang di luar Muhammadiyah seperti calon-colon penghuni neraka karena kesesatannya. Lambat laun pemahaman itu makin berkurang dan pudar seiring dengan pergumulanku bersama orang-orang NU saat menimba ilmu di padepokan Sunan Kali Jaga Jogjakarta. Jika di kampus lain kita akan menjumpai PMII (organisasinya mahasiswa NU) minoritas maka di UIN suka (sunan kalijaga) PMII menjadi mayoritas yang menguasai Senat Mahasiswa.

Persepsi saya tentang golongan lain menjadi semakin lunak ketika mulai beranjak dari jogja. Begitu memasuki bumi Andalas ternyata tak banyak jejak Muhammadiyah disana, demikian pula kondisi tatkala tinggal di Kepulauan Riau. Sekolah, kampus, klinik dan Rumah Sakitr di sana mungkin cukup untuk menggambarkan keberadaan Muhammadiyah yang merata, namun semua itu tidak mewakili jumlah warga Muhammadiyah yang berada di tempat yang sama.

Jika khunut cukup dijadikan dasar untuk menyebut bahwa itu adalah amalan NU, maka di Pekanbaru, Batam, Tanjung Pinang, dan Bandung yang pernah saya tinggal disana belum pernah saya mengikuti shalat subuh tanpa khunut. Jadi sangat sulit bagi saya untuk menemukan jejak Muhammadiyah hingga di gang-gang kecil atau perumahan tempat masyarakat sesungguhnya berada. Jika penetapan Hari raya juga cukup untuk membedakan mana itu Muhammadiyah dan mana NU, maka di tempat yang sama saya sebut tadi mayoritas tidak mengikuti Muhammadiyah. Lalu apakah mereka semua adalah warga NU? Kalau mengambil tolok ukur yang lainnya lagi tidak secepat itu pula kita mengatakan mereka orang NU. Karena banyak juga diantara mereka yang tidak lagi mengamalkan yasinan, jika itu syarat untuk menjadi warga NU. Artinya sebagian masyarakat tidak lagi terlalu peduli mereka sebagai orang NU atau Muhammadiyah. “saya orang islam” kata mereka singkat untuk tidak mau di katakan sebagai orang Muhammadiyah atau NU ataupun juga golongan lain. Artinya ada kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat untuk menjunjung tinggi kebersamaan tanpa terkotak-kotak oleh perbedaan golongan. Okelah organisasi seperti NU dan Muhammadiyah sangat di butuhkan untuk memajukan masyarakat, namun jauh lebih penting lagi jangan sampai perbedaan organisai justru memecah belah umat. Masyarakat selalu mendukung kedua organisasi itu, nyatanya setiap kali ada pengajian mereka juga berbondong bondong hadir tanpa harus melihat itu di selenggarkan Muhammadiyah atau NU. Apalagi keberadaan Muhammadiyah dan NU memang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Saya jadi ingat kisah salah seorang teman yang begitu tidak suka dengan Muhammadiyah, dia lebih memilih memasukkan anaknya ke sekolah yayasan umum yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya dari pada masuk sekolah Muhammadiyah yang berdekatan rumah. “Emang nanti kalo sakit tak mau pula masuk PKU Muhammadiyah?” gumamku dalam hati. Ada juga orang muhammadiyah yang memilih shalat jamaah jauh di luar tempat tinggalnya, karena di masjid perumahannya kebanyakan orang NU. “emang nanti kalo dah mati sapa yang nyolatin kalo bukan tetangganya yang NU?” jangan sampai segitunya lah kawan. Kita semua itu saudara, sama-sama muslim. Alangkah indahnya negeri ini jika di bangun dalam kebersamaan. Pada kenyataannya banyak warga Muhammadiyah yang mengikuti amalan NU seperti yasinan, tahlilan dan lain sebagainya. Dan begitu pula sebaliknya, banyak pengikut NU yang menyekolahkan anaknya ke sekolah Muhammadiyah. Dan semua itu juga berjalan dengan baik, jadi apa yang harus di persoalkan.

Kadang banyak orang yang sibuk memperdebatkan khilafiyah, sebuah berbedaan yang sangat berpotensi multi tafsir. Tapi mereka seolah menutup mata dengan persoalan nyata yang ada. Ambil contoh misalnya, mereka sibuk memperdebatkan doa setelah shalat. Satu pihak mengatakan gak boleh sambil angkat tangan, do’a cukup dengan lisan bahkan dalam hati pun tetep akan sampai. Pihak yang lain mengatakan mengangkat tangan itu perlu jaman nabi juga begitu. Tapi di luar sana anak-anak mereka yang beranjak dewasa dengan bebasnya saling berpegangan tangan dengan lawan jenis, pada hal itulah yang jelas-jelas haram. Mereka sibuk memperdebatkan berapa nishob sihingga seseorang di katakan wajib zakat, sementara di luar sana orang-orang yang kurang mampu sudah tak sabar menunggu uluran tangan kita. Mana yang baik ayolah kita amalkan, tak usah pedulikan itu di tuntunkan Muhammadiyah atau berdasar fatwa NU.
Saya jadi ingat ketika dahulu kala KH. Abdurrahman Wahid naik tahta berkat jasa Prof. Dr. Amin Rais, sering kali di adakan seminar dan pertemuan antara Muhammadiyah dan NU. Temanya tentu saja membangun kebersamaan dan mencari titik temu kesamaan bukan menonjolkan perbedaan. Sejarahpun di kupas, mulai dari perbedaan yang muncul dari kalangan shahabat, Tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga para ulama besar yang dengan kebesaran hati mereka mampu menyikapi perbedaan. Kesimpulannya tentu saja ada persamaan yang bisa lebih di tonjolkan dari pada harus direpotkan dengan perbedaan yang ada.

Kini saya membayangkan alangkah indanya jika berbagai seminar itu kembali di adakan bahkan bisa menghadirkan dari berbagai golongan yang lainnya. Bolehlah kita terkotak dalam berbagai organisasi, tapi bukan berarti kita harus saling membenci dan saling menjatuhkan satu sama lain. Boleh juga kita bangga dengan apa yang kita yakini dalam organisasi atau golongan yang kita ikuti, tapi jangan sekali-kali mengatakan bahwa kelompok yang lain adalah sesat dan tempatnya neraka.  Emang neraka milik lo? Jika Muhammadiyah adalah organisasi terbesar di Indonesia sementara NU memplokamirkan diri sebagai organisasi terbesar di Dunia, berarti MuhammadiNU adalah organisasi terbesar di dunia dan Akhirat, Amiin. Wallahu a’lam bishowab.

Tags :