HOME
Home » Artikel » Pahitnya Jualan Es Krim Cincau

Pahitnya Jualan Es Krim Cincau

Posted at January 21st, 2013 | Categorised in Artikel
Hari telah menjelang siang, seharusnya aku sudah mendorong gerobak es ini keliling pinggiran kota Bandung. Namun pengalaman pertama ini sungguh teramat berat, getir dan ah… rasanya tak pantas jika aku harus mengeluh hanya karena pekerjaan yang oleh sebagian orang dipandang rendah ini. Bukankah sekian waktu yang lalu aku sudah menikmati betapa manisnya dan indahnya perjalanan bisnis bersama kaki langit. “Allah tidaklah melihat apa yang kita hasilkan, tapi apa yang kita usahakan”, itulah satu bait kalimat yang selalu menjadi penawar lelah dengan profesi baru ini.
Tentu saja tak pernah terbayang sebelumnya, jika menanggalkan gelar sarjana yang telah aku tebus dengan peluh dan keringat selama 5 tahun di UIN Sunan Kalijaga akan beresiko seperti ini. namun bagaimanapun juga, inilah pilihan hidup yang harus aku jalani. segala konsekuensi yang muncul harus aku terima sebagai anugerah terindah yang aku miliki.
Sebelum mentari benar-benar beranjak menuju tengah siang aku harus sudah tiba di pusat keramaian kota, karena terik matahari yang mengeringkan tenggorokan pasti akan memaksa orang untuk meneguk air segar pelepas dahaga, dan Es krim cincau bikinan tanganku ini bisa menjadi alternatif lain yang bisa mereka pilih dengan harga yang sangat murah.
Dua jam telah berlalu sedari awal aku memutar gagang kayu sebagai alat bantu untuk memutar panci es krim agar bahan cair ini segera mengkristal dan membeku halus menjadi sajian Es Krim. Namun tanpa pengalaman sama sekali perkerjaan yang pada saatnya nanti bisa aku kerjakan hanya dalam waktu 1 jam harus aku selesaikan dua jam lebih. Sebenarnya ada yang bersedia mengajari tehnik pembuatan es krim lengkap dengan resepnya, namun imbalan 3 juta yang ia minta terlalu besar untuk sebuah usaha yang baru aku rintis ini.
Mentari telah beranjak semakin tinggi tanpa mau mempedulikan pekerjaanku yang belum juga usai, sepertinya aku memang harus segera berangkat tanpa menunggu es krim ini sempurna. seragam kebesaran tukang dagang keliling telah lengkap ku pakai, beranjak aku tinggalkan camp pembuatan es krim di rumah pak lek wagino. wah, ternyata gerobak berisi bongkahan es batu yang berfungsi untuk menjaga kebekuan es krim ini cukup berat, apalagi di tambah cincau hijau satu panci besar yang berisi penuh menjadi pelengkap kerja kerasku untuk menafkahi istri dan anak.
Hari telah menjelang dhuhur, akhirnya sampai juga aku di pinggiran jalan dekat UIN Sunan Gunung Jati Bandung. Lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi itu seolah mengetuk memori masa lalu ketika kuliah di UIN jogja. yah, aku dulu seperti mereka, namun setelah melewati jalan panjang di semenanjung kepulaaun riau dan daratan lancang kuning aku harus ikhlas menjalani satu episode kehidupan yang menghias indah sebagai seorang tukang es ini.
Betapa senangnya hatiku ketika satu persatu pembeli datang, dengan senyum penuh bahagia aku layani mereka. semakin lama semakin ramai, wah ternyata dagang es enak juga ya, gumamku dalam hati. Namun beberapa saat kemudian gerimis mengusir para pembeli yang telah mengantri di depan gerobakku yang tanpa atap ini. Dengan berat hati aku harus mengikhlaskan para pembeli itu berlarian meninggalkan aku sendirian di pinggir jalan. sepertinya gerimis ini datang bukan main-main, beberpa saat lagi pasti hujan lebat. cuaca di musim penghujan ini memang tidak menentu, sebentar panas hujan datang kemudian. kalau bukan terpaksa karena hanya ini ide yang aku punya, sebenarnya memang kurang cocok memulai dagang es di musim penghujan.
Belum genap 2 jam aku menjajakan es krim cincau ini, aku harus sejanak menepi untuk mencari tempat teduh sembari berharap hujan akan segera reda. Beberapa saat berteduh cuaca tidak menunjukkan akan kembali cerah. Pilihan satu-satunya tentu saja aku harus pulang, karena tidak mungkin orang akan membeli es disaat hujan deras seperti ini.
Basah kuyup seluruh badanku menerjang hujan lebat yang semakin menjadi, gerobak es ini juga serasa semakin berat. jarak 1 km yang harus aku tempuh untuk kembali pulang serasa lebih jauh dari pada saat tadi berangkat. langkah pelan membawa beban ini akhirnya sampai juga di posko pemberangkatan, namun beberapa meter sebelum aku benar-benar sampai rumah tadi sempat terjadi kecelakaan kecil. Tanganku terantuk antara pegangan gerobak dari besi dengan kerasnya tembok di gang sempit. Darah mengucur luka menganga melengkapi indahnya perjalanan dagang di hari pertama dengan omset Rp 39.000.
***
Tiga hari pertama dagang es krim cincau yang aku jalani selalu mendapat kiriman curah hujan yang cukup besar. inilah perjalanan “terberat’ dalam jejak langkah bisnisku, namun hikmah yang kemudian aku ambil bahwa perjuanga itulah yang menjadi titik balik untuk aku bisa bangkit dengan mendirikan D’Yummy Catering yang saat ini menawarkan catering termurah di kota bandung. Allahuakbar, hanya atas karunia Allah lah aku bisa bangkit dan kemudian bisa kembali mencapai titik dimana aku pernah merasa sukses dan bahkan kini lebih besar lagi. Kini aku selalu optimis untuk menjadikan D’Yummy menjadi catering terbesar di kota bandung dengan selalu menawarkan menu spesial nasi kotak termurah di kota bandung.
Tags :