HOME
Home » Artikel » Hampir saja tragedi itu terjadi

Hampir saja tragedi itu terjadi

Posted at April 30th, 2017 | Categorised in Artikel

Pagi itu masih subuh buta, selepas shalat subuh di mushola kiara condong yang kecil aku bergegas mengajak anak sulungku menuju kereta yang sedari awal memang berhenti dan start dari stasiun itu. Betapa cerianya mba yumna begitu hendak memasuki kereta ekonomi gerbong terdepan, kadang aku gendong dan kadang aku biarkan dia berlari sambil menyeret tanganku sambil bertanya-tanya di pintu mana kami akan masuk. Suasana gerbong sudah penuh ketika kami tiba di dalam gerbong yang kebanyakan ibu-ibu yang hendak berwisata ke jogja.

 

Tempat duduk yang aku cari akhirnya ketemu juga, namun yang bikin aku terkejut ternyata nomor tempat duduk di lembar kedua bukan satu bangku dan bahkan bukan satu gerbong. hal yang sangat naif hal itu baru aku sadari ketika di atas kereta, dan belakangan baru aku tau kalau ternyata beli tiket di Alfamart tidak bisa memilih nomor kursi.

“ah, ini mah masalah sepele” pikirku waktu itu.

aku menyapa orang di samping mba yumna “bu, bisa tukar kursi, saya di gerbong 3”, “o maaf pak, kami 1 RT rombongan jadi tidak bisa jauh-jauh” jawab ibu itu.

“nak, kamu duduk anteng disini ya, ini makanan yang bekelin umi mba yumna makan dulu, abi pergi sebentar”

aku segera bergebas pergi untuk mencari tempat dudukku agar bisa bertukar kursi. Sambil bolak balik lihat nomor kursi aku menerobos orang yang berjubel menuju gerbong 3, dan ternyata orang yang mestinya duduk di sampingku belum ada “ah, kumaha engke wae lah”. akhirnya aku balik lagi ke gerbong 1 dan berniat mengajak pindah anakku ke gerbong 3. Kali ini aku memilih jalan luar untuk menuju gerbong 1 karena tadi lewat dalam gerbong kereta sangat lama dan begitu sesaknya orang yang baru masuk kereta dengan membawa tas dan barang bawaan.

Begitu aku tiba kembali di gerbong 1, suatu hal yang sangat mengejutkan dan membuatku panik dengan perasaan yang luar biasa bergejolak ketika mendapati tempat duduk anakku sudah kosong, sementara rantang mie yang tadi dimakan tergeletak di atas kursi. aku tanya ibu-ibu di sampingnya pada gak tau kemana anakku pergi, aku semakin bingung ketika harus mecari, apakah mencari di dalam gerbong kerena ataukan mencari di luar kereta yang aku juga tidak tau berapa menit lagi kereta akan berangkat. Sama-sama beresiko jika kereta tiba-tiba saja berangkat, dengan penuh kesedian dan kepanikan aku memohon “ya Allah, temukankan anak hamba”. akupun keluar gerbong dan berjalan cepat tengok kanan tengok kiri seperti orang linglung, dan sejurus kemudian dari arah berlawanan yang masih diselimuti gelapnya waktu subuh aku melihat anakku berlari dan naik ke gerbong 2, langsung aku kejar dia, aku peluk, dan aku menangis sejadi jadinya. “Terima kasih ya Allah”

Saat itu aku merasa seperti orang paling bodoh sedunia, bisa-bisanya meninggalkan anak sendirian di dalam gerbong kereta hanya untuk bertukar nomor kursi. Hanya menangis sebentar akhirnya mba yuma bisa ceria kembali dan tidur dalam pangkuanku hingga sampai ke jogja. Namun tidak seperti halnya dengan aku, kesedihan dan rasa bersalahku terus berkecamuk hingga sampai di jogja dan bahkan hari-hari berikutnya penyesalan itu menghantui dan selalu membuat hatiku merinding. Aku pikir di usia 3 tahun anakku bisa menurut begitu saja ketika aku suruh duduk dan diam, anak punya pikiran lain. ketika ditinggal ayahnya terlalu lama, dia merasa cemas dan kemudian berusaha untuk mencari ke jalur yang tadi dia lalui, begitu sampai pintu gerbang tidak menemukanku dia kembali berlari ingin kembali ke tempat duduknya, akan tetapi dia belum bisa mengenali pintu gerbong yang tadi dia masuki karena semua pintu terlihat sama persis.

Ya Allah cukuplah sekali ini saja terjadi, menjadi pelajaran paling berharga dan tidak terjadi pada siapapun juga.

kejadian waktu itu 27 September 2014.

Tags :